Beranda  l  Duta Aksara  l  Tentang H. Qomar  l  Celoteh H. Qomar  l  Tentang GNP-PBA  l  Buku Tamu
Galery Foto
Tutor Bulan Ini
Garis Depan
Humor H. Qomar
Link 1
Link 2
Link 3
Link 4
Link 5
Ke Halaman Index

       Beranda > Kabar Utama

 

Jakarta, 19 Februari 2008
Manusia Berhati Malaikat
Kita mesti punya andil pada negeri ini, kita harus punya jasa pada negara ini, walau hanya menuntaskan seorang yang buta aksara. Inilah sumbangsih kita kepada bangsa dan negara ini, inilah ibadah kita kepada Tuhan, Allah SWT. Dasar moral inilah sesungguhnya yang mesti dimiliki oleh para Tutor kita dilapangan. Bahwa memerdekakan warga belajar dari belenggu buta aksara adalah tugas kemanusiaan, bahwa menyembuhkan warga belajar dari penyakit buta aksara, adalah tugas mulia yang bernilai ke-Tuhanan. Bahwa Tuhan sangat mencintai kepada manusia yang selalu berusaha berbuat mulia kepada sesamanya.

Hidup ini harus selalu berisi dengan kemuliaan-kemuliaan, karena sesungguhnya hidup itu sendiri adalah mulia. Jika kita ingin menjadi manusia yang dimuliakan Tuhan, maka salah satu yang mesti kita lakukan adalah menebarkan sifat Tuhan itu sendiri, rahman dan rahim, kasih dan sayang. Karena ilmu yang paling tinggi di dunia ini adalah ilmu kasih. Mengajarkan warga belajar dengan penuh cinta kasih dan kesabaran adalah bentuk kongkrit sebuah “kemuliaan”. Kita memang harus kasih sayang kepada siapapun, termasuk, kalau ngasih jangan sayang-sayang.

Sayang sekali dan adalah sesuatu yang sia-sia, jika kita yang sudah diberikan modal besar oleh Allah SWT berupa akal, budi, daya, cipta dan rasa, tidak menggunakannya secara maksimal. Bahwa Allah SWT sudah menciptakan alam dunia ini beserta isinya, flora, fauna, matahari, bumi, angin, laut dan lainnya. Jika semua itu tidak kita olah secara bijak karena ketidak-tahuan dan kebodohan, maka janganlah kata “takdir Tuhan” menjadi alat untuk cuci tangan. Bahwa kemiskinan, kebodohan, ketidak berdayaan, sesungguhnya bukan kehendak Allah, tetapi karena ketidak tahuan kita bahwa kita harus tahu tentang pengetahuan.

Pengetahuan, hanya bisa diraih dan dikuasai, salah satu caranya dengan membaca. Nabi Muhammad SAW sendiri ketika pertama kali mendapat wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril, yang diperintahkannya adalah untuk membaca. “Baca, bacalah demi nama Tuhan-mu yang telah menjadikan kamu dari segumpal darah”. Jadi, “membaca” adalah perintah Allah SWT yang paling pertama dan utama. Malaikat Jibril menuntun Nabi Muhammad dengan penuh cinta, kasih dan kesabaran. Malaikat Jibril seolah menjadi Tutor Khusus untuk Rasul Allah tersebut.

Kita atau lebih khusus lagi kepada para Tutor memang tidak bisa menjadi malaikat makhluk Tuhan yang sangat patuh terhadap perintah-Nya, selalu dalam keadaan suci dan tidak pernah berbuat kesalahan. Tetapi menjadi manusia yang “berhati malaikat” bisa diraih oleh siapa saja yang mau meraihnya. Jika para Tutor itu melaksanakan tugasnya dengan penuh keikhlasan, kesabaran dan kasih sayang dalam memberikan pendidikan keaksaraan, Tutor itu sesungguhnya sedang berjalan untuk meraih dan menjadi manusia yang berhati malaikat. Marilah kita menjadi manusia yang di cintai Allah, manusia yang mulia, manusia berhati malaikat. Am

Kembali ke atas