Jakarta, 19 Februari 2008
Manusia Berhati Malaikat
Kita mesti punya andil pada negeri ini, kita harus punya
jasa pada negara ini, walau hanya menuntaskan seorang
yang buta aksara. Inilah sumbangsih kita kepada bangsa
dan negara ini, inilah ibadah kita kepada Tuhan, Allah
SWT. Dasar moral inilah sesungguhnya yang mesti dimiliki
oleh para Tutor kita dilapangan. Bahwa memerdekakan
warga belajar dari belenggu buta aksara adalah tugas
kemanusiaan, bahwa menyembuhkan warga belajar dari penyakit
buta aksara, adalah tugas mulia yang bernilai ke-Tuhanan.
Bahwa Tuhan sangat mencintai kepada manusia yang selalu
berusaha berbuat mulia kepada sesamanya.
Hidup
ini harus selalu berisi dengan kemuliaan-kemuliaan,
karena sesungguhnya hidup itu sendiri adalah mulia.
Jika kita ingin menjadi manusia yang dimuliakan Tuhan,
maka salah satu yang mesti kita lakukan adalah menebarkan
sifat Tuhan itu sendiri, rahman dan rahim, kasih dan
sayang. Karena ilmu yang paling tinggi di dunia ini
adalah ilmu kasih. Mengajarkan warga belajar dengan
penuh cinta kasih dan kesabaran adalah bentuk kongkrit
sebuah “kemuliaan”. Kita memang harus kasih
sayang kepada siapapun, termasuk, kalau ngasih jangan
sayang-sayang.
Sayang sekali dan adalah sesuatu yang sia-sia, jika
kita yang sudah diberikan modal besar oleh Allah SWT
berupa akal, budi, daya, cipta dan rasa, tidak menggunakannya
secara maksimal. Bahwa Allah SWT sudah menciptakan alam
dunia ini beserta isinya, flora, fauna, matahari, bumi,
angin, laut dan lainnya. Jika semua itu tidak kita olah
secara bijak karena ketidak-tahuan dan kebodohan, maka
janganlah kata “takdir Tuhan” menjadi alat
untuk cuci tangan. Bahwa kemiskinan, kebodohan, ketidak
berdayaan, sesungguhnya bukan kehendak Allah, tetapi
karena ketidak tahuan kita bahwa kita harus tahu tentang
pengetahuan.
Pengetahuan, hanya bisa diraih dan dikuasai, salah satu
caranya dengan membaca. Nabi Muhammad SAW sendiri ketika
pertama kali mendapat wahyu dari Allah melalui malaikat
Jibril, yang diperintahkannya adalah untuk membaca.
“Baca, bacalah demi nama Tuhan-mu yang telah menjadikan
kamu dari segumpal darah”. Jadi, “membaca”
adalah perintah Allah SWT yang paling pertama dan utama.
Malaikat Jibril menuntun Nabi Muhammad dengan penuh
cinta, kasih dan kesabaran. Malaikat Jibril seolah menjadi
Tutor Khusus untuk Rasul Allah tersebut.
Kita atau lebih khusus lagi kepada para Tutor memang
tidak bisa menjadi malaikat makhluk Tuhan yang sangat
patuh terhadap perintah-Nya, selalu dalam keadaan suci
dan tidak pernah berbuat kesalahan. Tetapi menjadi manusia
yang “berhati malaikat” bisa diraih oleh
siapa saja yang mau meraihnya. Jika para Tutor itu melaksanakan
tugasnya dengan penuh keikhlasan, kesabaran dan kasih
sayang dalam memberikan pendidikan keaksaraan, Tutor
itu sesungguhnya sedang berjalan untuk meraih dan menjadi
manusia yang berhati malaikat. Marilah kita menjadi
manusia yang di cintai Allah, manusia yang mulia, manusia
berhati malaikat. Am
Kembali ke atas