Beranda  l  Duta Aksara  l  Tentang H. Qomar  l  Celoteh H. Qomar  l  Tentang GNP-PBA  l  Buku Tamu
Galery Foto
Tutor Bulan Ini
Garis Depan
Humor H. Qomar
Link 1
Link 2
Link 3
Link 4
Link 5
Ke Halaman Index

       Beranda > Kabar Utama

 

Jakarta, 20 Februari 2008
Gebrakan Perguruan Tinggi Berantas Buta Aksara
Sebagai institusi yang bergerak dalam bidang pendidikan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam upaya percepatan pemberantasan buta aksara di Indonesia. Kehadiran para mahasiswa, dengan semangat dan idealisme mudanya, menjadi semacam penyegaran dalam dunia pendidikan keaksaraan. Peran mereka dalam tiga tahun terakhir makin menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Tak terasa, gerakan percepatan pemberantasan buta aksara telah memasuki tahun keempat sejak digelorakan kembali pada 2004 silam. Aksi ini pun makin menemukan pola pemberatasan yang beragam. Maklum saja, upaya pemberantasan tidak saja oleh Departemen Pendidikan Nasional, tetapi juga melibatkan berbagai kementerian, dinas-dinas di pusat maupun di daerah, lembaga swadaya masyarakat, organisasi berbasis massa dan keagamaan, hingga kalangan akademisi.

Sebagai pemegang komando langsung operasional peberantasan buta aksara nasional, Mendiknas Prof. Bambang Sudibyo, memang meran-cang berbagai bentuk kerja sama untuk mencapai target 5% saja penyandang buta aksara pada tahun 2009. Pendekatan yang dilakukan Mendiknas di antaranya pendekatan horizontal dan vertikal.

Pendekatan vertikal, tentu Inpres No. 5 tahun 2006, tentang Gerakan Nasional Penuntasan Pendidikan Dasar 9 Tahun dan Gerakan Nasional Percepatan Pemberantasan Buta Aksara (GNP-PBA), menjadi landasan yang kuat untuk mengerahkan aparat pemerintah untuk turut menutaskan bangsa ini dari belenggu buta aksara. Alhasil, tak heran sejak tahun 2006 berbagai kesepakatan pun dicapai mulai dari pemerintah provinsi hingga tingkat kabupaten bahkan kecamatan. Pun demikian dengan pendekatan horizontal, Depdiknas juga telah melakukan berbagai penandatangan MoU sebagai bentuk keterlibatan mereka dalam rangka GNP-PBA.

Kerja sama horizontal, satu yang fenomenal adalah kerja sama Diknas dengan berbagai perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Kalangan akade-misi ini memang layak dibidik men-jadi partner untuk mengurangi penduduk buta aksara di Indonesia. Apalagi, selain perguruan tinggi yang notabene bergelut di dunia pendidikan, kehadiran mereka juga dapat mem-beri sumbangsih yang cukup berarti dengan berbagai pendekatan dan inovasi pembe-rantasan yang mereka lakukan.

“Berdasarkan Inpres No 5 tahun 2006 memang kita terus meng-galang kerja sama dengan berbagai lembaga stakeholder untuk membantu pemberantasan buta aksara. Kerja sama dengan perguruan tinggi dilakukan sejak tiga tahun yang lalu. Untuk 2007, kita memperkuat dan memperluas kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi baik melalui pusat dalam hal ini Direktorat Pendidikan Masyarakat (DIKMAS) maupun melalui dana dekonsentrasi yang ada di provinsi,” ujar Pahala Simanjuntak, Kasubdit Kemitraan Dikmas.

Pahala juga mengatakan, jumlah perguruan tinggi yang melakukan kerja sama untuk PBA kemungkinan masih akan terus bertambah. Saat ini, Subdit Kemitraan tengah mendata informasi dari seluruh provinsi perguruan mana saja saja yang sudah terlibat penuh dalam rangka PBA melalui dana Dekon. “Sementara yang bekerja sama dengan pusat, kita sudah mendata bahkan beberapa minggu ini telah banyak perguruan tinggi yang mengonfirmasi apa yang harus mereka lakukan untuk tahun 2008,” ujar Pahala di ruang kerjanya, Senin, 21 Januari lalu.

Sebagai langkah koordinasi kerja sama dengan perguruan tinggi, menurut Pahala, pada 12 Februari 2008, pihaknya bakal merancang pertemuan dengan sekitar 70 perguruan tinggi negeri maupun swasta, untuk mengevaluasi apa yang telah dilakukan mereka pada tahun 2007. “Acara ini sekaligus juga memetakan apa langkah yang akan diambil untuk tahun 2008,” tambahnya.

Diknas sendiri, menurut Pahala, memang berharap keterlibatan perguruan tinggi dalam program PBA ini akan makin luas. Terlepas apakah nanti di lapangan akan seperti yang dilakukan UGM sebagai perintis KKN di kalangan kampus.

“Kebetulan Desember 2007 lalu, UGM mengumpulkan perguruan tinggi yang telah bekerja sama dalam GNP-PBA untuk mengevaluasi pola kerja sama mereka. Kami diundang ke sana, semua perguruan tinggi mempresentasikan program yang telah mereka lakukan,” kata Pahala seraya menambahkan, hasil dari presentasi perguruan tinggi yang bekerja sama di bawah koordinasi UGM sangat menggembirakan. “Presentasi yang dilakukan perguruan tinggi itu menunjukkan performa keseriusan mereka dalam pemberantasan buta aksara yang menggembirakan untuk membantu kita. Meski bantuan dari kita jumlahnya kecil dibanding bantuan dari Dirjen Dikti atau yang lainnya, misalnya,” tambahnya.

Tahun 2007 lalu, dalam peberantasan buta aksara memang menjadi tahun yang begitu luar biasa. Terlebih jika dikaitkan dengan keterlibatan kalangan kampus. Pada tahun lalu, pemberantasan buta aksara bagi kalangan perguruan tinggi memang begitu terasa gumebyarnya, dan mudah-mudahan tidak sekadar eforia. Pada sabtu, 30 Juni 2007 lalu, misalnya, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, resmi melepas secara nasional peserta KKN Pemberantasan Buta Aksara tahun 2007. Acara pelepasan digelar di halaman depan Balairung Kampus Universitas Gadjah Mada, Bulaksumur, Yogyakarta. Pelepasan peserta KKN setidaknya melibatkan 23 perguruan tinggi, di antaranya: Universitas Gadjah Mada, Universitas Pakuan Bogor, Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Universitas Islam 45 Bekasi, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Universitas Brawijaya.

Saat itu, Mendiknas yang didamping Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal Ace Suryadi, melepas sebanyak 400 mahasiswa dari 23 perguruan tinggi se-Jawa untuk bersama-sama melakukan Kuliah Kerja Nyata Pemberantasan Buta Aksara (KKN PBA). Mereka dilepas bersama sebanyak 4.162 mahasiswa UGM yang mengikuti KKN Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM). Khusus bagi UGM, jumlah mahasiswa yang dilepas merupakan jumlah terbesar dari KKN yang rutin mereka gelar tiap tahun, yang rata-rata diikuti 1.000 mahasiswa.

Respons Luar Biasa
Kerja sama kalangan insan cendekia dalam rangka GNP-PBA di Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran Univesitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Maklum saja, untuk urusan pemberantasan buta aksara, UGM menjadi pionir dan pelopor bagi perguruan tinggi. Bukan itu saja, UGM malah menggebrak program pemberantasan buta aksara dengan pendekatan yang benar-benar beda. Maklum terobosan UGM dengan program KKN Tematik-nya menjadi barometer bagaimana mestinya melakukan pemberantasan buta aksara di negeri ini. Cara-cara pemberantasan yang konvensional yang memakan waktu hingga enam bulan, bagi UGM sudah tidak sesuai lagi. Karenanya perlu upaya percepatan dan akselerasi. Terlebih jika dikaitkan dengan target penuntasan buta aksara yang harus menekan hingga tinggal 5% pada tahun 2009.

UGM pun hadir lewat upaya percepatan dan akselerasi pemberantasan buta aksara dengan program KKN Tematik. Berbagai perguruan tinggi se-Indonesia pun sudah melirik dan bergabung untuk melaksanakan pemberantasan buta aksara sebagaimana dilakukan UGM. Bahkan, KKN Tematik UGM ini hingga Mei 2007 sudah dikerjasamakan oleh 58 perguruan tinggi. Bahkan jumlah perguruan tinggi yang ingin ikut semakin banyak, semakin bertambah, termasuk beberpa perguruan tinggi asing dari Jepang, Korea, dan Eropa Barat. Maka wajar jika Mendiknas menilai program terobosan UGM ini sudah menjadi best practice peberantasan buta aksara kelas dunia.

“Dalam rangka melaksanan Tridharma yang di dalamnya ada pendidikan, penelitian, dan pengabdian, kami UGM berpartisipasi dalam percepatan PBA. Partisipasi tersebut antara lain melalui pembuatan Paket Ajar Keaksaraan Tingkat Dasar dengan Bahasa Ibu dan Metode Bertingkat,” papar Prof. Dr. Retno S. Sudibyo, M.Sc., Apt., Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM.

Partisipasi selanjutnya, UGM juga membuat Paket Ajar Pendidikan Keaksaraan Tingkat Dasar 2 bulan serta Paket Percepatan PBA. Paket Ajar Keaksaraan Tingkat Dasar dengan Bahasa Ibu dilaksanakan dengan paradigma pemberdayaan training on trainer (TOT) dan bekerja sama dengan Depdiknas, perguruan tinggi, Pemda dan Dinas Pendidikan melakukan PBA secara kontinu. Pemberantasan buta aksara juga sangat memungkinkan dilakukan karena KKN UGM berbasis riset dengan paradigma “Empowerment”. Karenanya, kegiatan KKN UGM dinamakan KKN PPM. “Sebetulnya lebih kepada PPM-nya, cuma KKN ini telah menjadi trade mark UGM karena UGM pencetusnya jadi kami tidak membuangnya,” papar Retno.

Disebut PPM karena pada dasarnya KKN UGM lebih kepada Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Inilah yang membuat KKN PPM UGM berbeda dengan KKN yang lama. Menurut Retno, yang meraih gelar keprofesorannya dari UGM pada 2002 ini, KKN yang lama lebih kepada development (pembangunan) sementara PPM lebih kepada empowerment (pemberdayaan). “Sangat berbeda, kalau dirasa-rasakan, development itu cenderung berkonotasi top-down sementara empowerment jelas-jelas sebuah gerakan bottom-up. Dengan demikian konsep pemberdayaan ini akan lebih mengena daripada pembangunan. Karena itulah KKN UGM menjadi Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat,” ujarnya.

Progres Positif
Lantas bagaimana KKN PBA yang digelar perguruan tinggi di luar UGM? Secara keseluruhan, menurut Kasubdit Kemitraan Pahala, selama ini menunjukkan keseriusan dan performa yang menggembirakan. Universitas Brawijaya, Malang, misalnya, KKN Tematik GNP-PBA yang dilaksanakan Unibraw sesuai dengan Instruksi Presiden  nomor 5 Tahun 2006 tentang percepatan pemberantasan buta aksara. Dengan tema ini peserta KKN Unibraw telah mampu memperluas penyelenggaraan program PBA dan memberikan layanan pendidikan keaksaraan bagi warga masyarakat yang buta aksara.

Di samping itu mereka juga diharapkan dapat memfasilitasi penyelenggaraan dan pelaksanaan program PBA sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat setempat. KKN tematik Unibraw tahun lalu berlangsung dua bulan, Juli hingga Agustus 2007, melibatkan 350 mahasiswa serta sejumlah tenaga pendamping (fresh graduate) yang diterjunkan di 156 kecamatan pada 25 kabupaten di wilayah Jawa Timur. Di lapangan, mereka melakukan berbagai kegiatan meliputi pembelajaran pemberantasan buta huruf khususnya pada orang tua peserta Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas) Sembilan Tahun, identifikasi potensi lokal yang dapat dikembangkan sebagai usaha ekonomi produktif serta penuntasan sasaran wajib belajar.

Untuk pengembangannya, menurut Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPM) Unibraw Prof. Syamsul Bahri, sebagaimana dilansir beberapa media, pihaknya bersama para “petinggi” UGM juga sering melakukan sharing soal pengembangan pengabdian kepada masyarakat yang mampu memberikan kontribusi besar bagi peningkatan hidup rakyat secara luas. “Kami berharap KKN yang dikemas tematik ini mampu memberikan sumbangan pemikiran sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat, minimal dari bisa membaca dulu baru dipikirkan peningkatan finansialnya,” ujarnya.

Sementara itu, di samping KKN Wajar Dikdas 9 tahun, LPM Universitas Negeri Jakarta bekerja sama dengan Ditjen Pendidikan Luar Sekolah juga melaksanakan KKN Pemberantasan Buta Aksara (KKN PBA) di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Kegiatan KKN Pemberantasan Buta Aksara UNJ ini melibatkan lebih banyak lagi mahasiswa dalam pelaksanaannya, yakni ± 60 orang mahasiswa. KKN PBA UNJ ini diharapkan menghasilkan peta sumber belajar masyarakat untuk dapat dijadikan instrumen pencapaian PBA, profil pusat sumber belajar masyarakat tingkat kecamatan, pembentukan satgas PBA tingkat kecamatan dan kabupaten, merumuskan program PBA (kerja sama dengan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat setempat) serta kampanye sukses program PBA LPM – UNJ.

Gambaran pencapaian PBA yang dilakukan perguruan tinggi juga ditunjukkan oleh Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten. Program PBA Keaksaraan Fungsional (KF) di bawah pengelolaan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) Untirta yang digelar di Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang, misalnya, telah mencapai 60 persen pada September 2007 silam. Pencapaian itu sebagaimana dikatakan Ketua LPPM Untirta Soleh Hidayat ketika memonitor dan mengevaluasi 25 kelompok KF di Desa Salira, Kecamatan Puloampel, Minggu 8 September 2007. “Para penyandang buta aksara memang sudah bisa baca dan tulis. Tapi itu belum dapat dikatakan bebas buta aksara. Dari beberapa parameter, pencapaiannya baru sekitar 60 persen. Kita tidak dapat menerjunkan mahasiswa untuk menjadi tutor karena tidak ada KKM,” jelas Soleh Hidayat seperti ditulis harian Radar Banten.

Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bina Warga Nur Salim juga membenarkan pencapaian tersebut. Menurut Nursalim, prestasi 250 penyandang buta aksara binaan LPPM Untirta dengan tutor dari PKBM Bina Warga dalam baca-tulis baru pada tahap penulisan kalimat berjumlah tujuh suku kata. “Untuk menulis dan mengenal angka, mereka sudah bisa dari angka nol sampai 9,” katanya. Di Puloampel sendiri, dari 921 penyandang buta aksara yang ada, 700 orang ditargetkan terentaskan tahun lalu. Dari jumlah itu, 25 KF dibina LPPM Untirta sementara sisanya, 450 orang yang tergabung dalam 45 KF dibina PKBM Bina Warga.

Progres yang nyata bahkan disampaikan Universitas Terbuka. Menurut Rektor UT, Prof. Atwi Suparman, untuk pemberantasan buta aksara UT mengerahkan mahasiswa yang kebetulan berprofesi guru. Mereka harus memelekaksarakan masyarakat yang masih buta aksara yang berada di kampung tempat dia mengajar. Kerja sama UT dengan Diknas sebenarnya sudah terjadi tiga tahun yang lalu. “Kami kerja sama dengan skala yang kecil dulu dengan peserta 2.650 dan dibatasi tujuh provinsi saja. Di tujuh provinsi itu ada 12 UPPBJ UT, yaitu di kantor daerah UT. Jadi, kita kerahkan untuk memenuhi target, tapi karena pengalaman tahun pertama ini kami takut meleset (missed), maka kami naikkan, yang kami didik bukan 2.650 tapi 3.700,” kata Atwi.

Hasilnya, ternyata dari 3.700 yang digarap UT, yang berhasil mendapatkan Sukma sebanyak 3.564, jauh di atas dari target yang hanya 2.650. Kemudian pada tahun ke-2 tahun 2007, UT diberi kepercayaan untuk mendidik warga belajar untuk melek aksara sebanyak 5.600. “Nah, kami didik warga belajar sebanyak 5.985, lebih berani agak mepet dengan target, karena pengalaman kami justru over target,” katanya.

Nah, untuk tahun 2007 berjalan, menurut Atwi, pemberantasan buta aksara UT agak terkendala. Maklum, di beberapa daerah terjadi bencana seperti banjir. “Ada hubungannya buta aksara dengan banjir, karena guru-guru kami ini kebanjiran dan masyarakat yang mau diajar juga kebanjiran, jadi program kami tersendat ini. Lebih dari 1.000 warga belajar yang belum bisa ujian sampai sekarang, yakni di Kabupaten Bojonegoro yang terkena musibah paling parah,” katanya seraya menjelaskan meski tertunda tapi tetap akan diselesaikan sesegera mungkin setelah musibah banjir bisa diatasi.

Sementara itu, menurut Kasubdit Kemitraan, kerja sama dengan UT juga sangat efektif. “Yang diturunkan UT justru mahasiswa yang berprofesi guru. Jadi, mereka ada mata kuliah Pendidikan Masyarakat yang mewajibkan mahasiswanya memelekaksarakan minimal lima orang. Dengan demikian mahasiswa ada keterpaksaan untuk menuntaskan lima warga sampai mendapat Sukma,” katanya.

Mendesain Ulang Program KKN
Keterlibatan perguruan tinggi dalam gerakan percepatan pemberantasan buta aksara jelas menjadi nilai tambah. Apalagi jumlahnya juga makin bertambah dan pendekatan yang dilakukan mereka makin inovatif, sesuai dengan kondisi daerah mereka. Terlebih, sebagaimana diakui Pahala, mengenai pola pemberantasan, Diknas memberi kebebasan bagi perguruan tinggi yang bekerja sama, sepanjang mengikuti mekanisme Standar Kompetensi Keaksaraan yang ditetapkan Diknas.
“Mengenai strategi pemberantasan, karena masing-masing daerah memiliki karakteristik, situasi, dan kondisi berbeda, perguruan tinggi mencari model pendekatan sesuai dengan konteks lokal. Karena tak selamanya, misalnya, apa yang dilakukan UGM bisa diterapkan di Papua atau di NTT. Silakan saja disesuaikan dengan potensi daerah di mana PT itu berada,” kata Pahala.

Semakin banyak model pembelajaran yang dihasilkan melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, memang jelas bakal menguntungkan pemerintah. Apalagi jika pola pemberantasan dan model pembelajaran itu bisa didesimenasikan di daerah masing-masing oleh lembaga dan organisasi masyarakat setempat. Secara persen-tase, perguruan tinggi yang bekerja sama dalam PBA saat ini masih didominasi oleh perguruan tinggi negeri yakni sekitar 55% dan sisanya perguruan tinggi swasta. “Mudah-mudahan tahun ini banyak perguruan tinggi swasta yang terlibat,” kata Pahala.

Hanya, lanjutnya, ternyata masalahnya program KKN tidak semua perguruan tinggi memilikinya. Karenanya, UGM yang didukung oleh perguruan tinggi-perguruan tinggi yang bekerja sama dengan UGM, mengusulkan ke Mendiknas dan sudah disampaikan ke Dirjen Dikti untuk me-redesign program KKN. “Ini juga didasarkan karena konsep Tridharma ketiga perguruan tinggi masih berlaku. Jadi, perguruan tinggi diharapkan melakukan desain ulang prgram KKN di kampus mereka.

“Kelihatannya mereka akan mengembangkan konsep KKN atas dasar keberhasilan UGM dalam melakukan PBA. Kalau UGM yang notabene universitas besar di Indonesia mau memberikan perhatian yang serius dalam PBA sampai-sampai menempatkan mahasiswa selama dua bulan di desa, kenapa yang lain tidak,” ujar Pahala seraya menambahkan, “saya sempat melihat di Pamekasan hingga di pulau-pulai kecil di Madura mahasiswa melakukan PBA sambil menyiapkan tutor lokal yang akan meneruskan program PBA. Ini sangat membantu karena untuk warga belajar bisa jadi mereka butuh lebih dari dua bulan. Uniknya, UGM merekrut mahasiswa yang berasal dari setempat. Yang bisa bahasa ibu dan bisa melakukan pendekatan efektif karena tahu lingkungan.”

Meski demikian, untuk tingkat efektivitas Direktorat Pendidikan Masyarakat tetap melakukan evaluasi pada semua perguruan tinggi yang bekerja sama. Evaluasi dilakukan melalui mekanisme penyerahan laporan pertengahan dan akhir program. Untuk kegiatan PBA tahun 2007, menurut Pahala, sudah masuk 79% laporan dan tengah dianalisis. “Pada tanggal 12 Februari nanti mereka diminta juga melakukan presentasi sehingga nanti ada sharing di mana kelemahan dan keunggulan mereka sehingga tiap perguruan tinggi akan saling membelajarkan. Saya kira ini akan lebih efektif sekaligus juga kami akan merancang sejauh mana perguruan tinggi melakukan program tindak lanjut pada 2008,” tandas Pahala. Am

Kembali ke atas